Sabtu, 03 Januari 2009

Tolak Kapitalisasi pendidikan


" Saya ragu dengan Indonesia, Pesimis dengan masa depan karena disekitar saya masih banyak masyarakat yang tidak mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak "

Dunia pendidikan seakan luput dari pandangan kita, padahal ada banyak fenomena yang terjadi didalamnya. berbagai macam krisis dan masalah kerap berhimpun dalam institusi ini. apa sebenarnya yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Edukasi yang merupakan jalan utama dalam mewujudkan bangsa maju, bangsa berfikir, kreatif, tidak bisa dikenyam oleh golongan mayoritas. Kaum kapitalis tidak memberikan kesempatan kepada budak untuk mengembangkan pikirannya melalui pendidikan. Mereka disibukkan dan dikejar-kejar tuntutan kehidupan dari atasan. Perbedaan pendidikan, kualitas, kuantitas dan fasilitas antara kaum bangsawan dan golongan bawah sangat menyolok. Ternyata kesenjangan sosial sekarang terus terjadi. Fasilitas pendidikan yang memenuhi syarat, guna meningkatkan kualitas intelektual dieksploitasi oleh orang-orang yang punya kesempatan itu. Slogan-slogan "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi" hanya propaganda simbolistik – dari demokrasi – belaka. Yang kaya semakin tinggi taraf pendidikannya, dan yang miskin semakin terbelakang, bodoh dan terisolasi peradaban. Dalam kondisi seperti ini siapa yang dirugikan ?

Apalagi bagsa ini sekarang diperparah dengan krisis disegala bidang, lebih-lebih krisis ekonomi yang tidak ada ujung pangkalnya. Bukan orang kaya yang berpangkat dan orang berkecukupan yang kena imbasnya, rakyat kecil juga terkena imbasnya. Mereka (rakyat kecil) harus berpontang-panting mencukupi kebutuhan sehari-harinya – apalagi buat bayar uang sekolah anaknya dengan mengandalkan sisa kekuatan menghadapi hidup.

Kapan lagi kelas bawah dapat menikmati pendidikan yang layak – sama kualitas, kuantitas dan sarana – padahal mereka juga ditakdirkan memiliki hak yang sama dalam segala bidang. Kapan pendidikan yang memanusiakan manusia bisa terwujud, kalau masih ada yang tertindas dan dibelenggu haknya. Sudah saatnya kita bergerak meminjam ungkapan WS. Rendra – bukan hanya mengeluh dan mengaduh tetapi mengolah. Sungguh sangat dilematis kondisi pendidikan sekarang, dimana rakyat kecil tidak diberi kesempatan untuk menikmati betapa indahnya belajar disekolah elit yang nyaman dan tenang, kapan pemerintah membuka mata melihat penderitaan mereka?

Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, berkaitan dengan situasi pendidikan, budayawan Umar Kayam yang mensinyalir, bahwa salah satu aspek yang mungkin paling dramatis dibidang pendidikan kita, adalah ketidak seimbangan antara insfrasuktur yang disebut "sekolah" dengan "dunia nyata" yang berada diluarnya .sekolah-sekolah kita mulai dari Sekolah dasar hingga universitas, telah sejak lama tidak mampu melengkapi hampir semua kebutuhannya yang paling dasar dan esensial. Satu sekolah tanpa laboratorium dan alat-alat peraga. Dimana gaji guru yang cukup hanya untuk biaya makan seminggu dan ruangan kelas dengan murid paling sedikit empat puluh hingga lima puluh orang. Realitas ini kita jumpai di dunia pedesaan. Yang paling menyedihkan lagi adalah justru yang paling diperhatikan pemerintah hanya sekolah perkotaan, bukan pedesaan. Hal ini jelas menjadi sebuah dikotomi pendidikan yang memarjinalkan masyarakat pedesaan, Hal ini dapat memungkinkan akan out put yang buruk dari pendidikan itu sendiri.

Persoalan lain yang terjadi di masyarakat pedesaan kaitannya dengan dunia pendidikan adalah kehadiran pendidikan formal sebagai sebuah institusi yang senantiasa menjadi tumpuan masyarakat. Banyak harapan dan keinginan yang ditumpukan masyarakat kepada pendidikan. Melalui pendidikan, manusia berharap agar masa depan kehhidupannya mendapatkan kesuksesan yang menjanjikan. Atas dasar inilah maka masyarakat rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk mendapatkan pendidikan yang nantinya akan menjadi jaminan masa depannya itu. Manusia rela mengorbankan harta, benda, waktu, tenaga, pikiran dan perasaannya demi untuk mencapai pendidikan yang diharapkan.

Impian yang hilang

Sebagian dari masyarakat ada yang dapat mewujudkan impian dan harapannya melalui pendidikan formal tersebut. Namun ada sebagian pula yang tidak memperoleh apa yang diharapkannya dari pendidikan tersebut. jika demikian halnya, tampak bahwa pendidikan formal seperti sekolah –sekolah dengan jenjang-jenjangnya bukan merupakan satu-satunya alternatif yang dapat menjanjikan masa depan masyarakat. Banyak faktor lain yang menentukan selain sekolah sebagai alternative yang menyertai kesuksesan hidup masyarakat.

Kekecewaan masyarakat pada dunia pendidikan formal lebih lanjut terlihat pada saat mereka tidak mampu merespon dan menjawab berbagai masalah actual yang timbul di masyarakat yang menyebabkan mereka tidak dapat meraih kesuksesan.

Ivan Illich memperlihatkan dalam tulisan-tulisannya, bahwa pelembagaan nilai mau tidak mau akan menimbulkan polusi fisik, polarisasi sosial dan ketidak berdayaan psikologis atau bahasannya Malik Fajar "Impotensi psikologis" – tiga dimensi dalam proses degradasi global dan kesengsaraan dalam kemasan baru (Modernised misery). Sedangkan menurut Freire, praktek pendidikan tersebut akan memunculkan kebudayaan bisu dimana masyarakat dihinggapi oleh perasaan takut kebebasan (Fear of Freedom). Dalam keadaan demikian, maka sebagian masyarakat ada yang bersifat apatis, bahkan tidak percaya lagi kepada lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah.

Kenyataan diatas menyudutkan Negara-negara berkembang pada suatu dilema benang kusut khususnya Indonesia. Disatu sisi pihak pertumbuhan penduduk yang demikian pesat menghendaki penyediaan sarana pendidikan yang memadai, tapi dipihak lain penambahan itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.

Maka tidak salah kemudian kalau minat masyarakat terhadap pendidikan berkurang dan berganti dengan kebencian-kebencian serta pesimis kepada masa depan. Indonesia kini dalam ancaman virus kebodohan. suatu saat jika pendidikan tidak dijadikan skala prioritas oleh pemerintah maka dapat dipastikan Indonesia mengalami masa dimana seorang lelaki yang sudah kehilangan keperjakaannya atau lebih tepatnya yaitu "Kehancuran".


Semoga mimpi buruk itu akan hilang dengan angin malam yang sering dirasakan.


Cecep Sopandi

dipojokan perpustakaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kebenaran itu ada disekitar kita, jadi jangan takut dengan yang lainnya..