Rabu, 14 November 2012
Peran Ulama dalam Penanggulangan Kemiskinan
Menengok Pendidikan Kita
Dilema Benang Kusut
Kamis, 14 Mei 2009
Islam Agama Pembebasan ; Ali Syari'ati
The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World menyatakan bahwa sulit menemukan biografi intelektual Syari’ati yang otoritatif. Banyak sisi kehidupan Syari’ati yang tetap tersembunyi. Sejak ia wafat, setiap tahun memang banyak karyanya yang diterbitkan di Iran untuk mengenangnya, namun datanya tidak lengkap, tersebar, dan bercorak hagiografis, sehingga agak sulit dibedakan antara kebenaran dan legenda.
Modernisasi dari atas dan sentralisasi kekuasaan yang dilakukan dengan tangan besi; penerapan cara-cara militer yang ‘mengharuskan represi brutal terhadap mereka yang menentang, menjadi cirri utama rezim kekuasaan Reza Syah. Modernisasi dan Industrialisasi yang dijalankan pada dasarnya berkiblat pada Negara-negara di Eropa Barat.
Tetapi keesokan paginya, 19 Juni 1977, Syari’ati ditemukan tewas di Southampton, Inggris. Pemerintah Iaran menyatakan Syari’ati tewas akibat penyakit jantung, tetapi banyak yang percaya bahwa dia dibunuh oleh polisi rahasia Iran. Kematiannya menjadi mitos "Islam Militan" Popularitasnya memuncak selama berlangsungnya revolusi Iran, Februari 1979. Saat itu, Fotonya mendominasi jalan-jalan di Teheran berdampingan dengan Ayatullah Khomeini.
ISLAM AGAMA PEMBEBASAN
Pemahaman Islam yang ditawarkan Ali Syari’ati berbeda dengan pemahaman maintreem saat itu. Islam yang dipahami banyak orang di masa Syari’ati adalah Islam yang hanya sebatas agama ritual dan fiqh yang tidak menjangkau persoalan-persoalan politik dan sosial kemasyarakatan. Islam hanyalah sekumpulan dogma untuk mengatur bagaimana beribadah tetapi tidak menyentuh sama sekali cara yang paling efektif untuk menegakkan keadilan, strategi melawan kezaliman atau petunjuk untuk membela kaum tertindas (mustad’afîn).
Gagasan Syari’ati tentang Islam revoluioner atau Islam pembebasan sejalan dengan gagasan tentang teologi pembebasan (theology of liberation) yang banyak diusung oleh tokoh-tokoh revolusioner baik di Amerika Latin maupun Asia. Ide dasar pemikiran antara Syari’ati dengan para pengusung teologi pembebasan hampir sama, yakni ingin mendobrak kemapanan lembaga resmi keagamaan (ulama, gereja) yang posisinya selalu berada pada pihak kekuasaan, dan berpaling dari kenyataan ril umatnya yang selalu ditindas oleh kekuasaan itu. Mereka sama-sama memberontak dan tidak puas dengan seperangkat doktrin yang telah dibuat oleh ulama atau gereja untuk melindungi kepentingan kelas atas dan menindas kelas bawah. Islam revolusioner dan teologi pembebasan sama-sama berupaya untuk mengakhiri dominasi lembaga resmi agama dan mengembalikan hak menafsirkan agama itu kepada rakyat, sehingga doktrin-doktrin yang terbentuk adalah ajaran agama sejati yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Kritik yang cukup pedas dari Syari’ati kepada golongan ulama membuat para ulama menberikan reaksi balik. Muthahari, salah sorang ulama terkemuka, memandang Syari’ati telah memperalat Islam untuk tujuan-tujuan politis dan sosialnya. Lebih jauh Muthahari menilai, aktivisme politik protes Syari’ati menimbulkan tekanan politis yang sulit untuk dipikul oleh sebuah lembaga keagamaan seperti Hussainiyeh Ersyad dari rezim Syah.
Dan Memang, setelah Syari’ati banyak mengkritik lembaga ulama dan rezim, Hussainiyeh Ersyad akhirnya ditutup paksa oleh pasukan keamanan. Selain Muthahhari, masih banyak ulama sumber panutan (marja’ taqlid) seperti Ayâtullah Khû’i, Milani, Rûhani, dan Thabathâba’i yang juga turut mengecam suara-suara kritis Syari’ati. Bahkan mereka mengeluarkan fatwa yang melarang membeli, menjual, dan membaca tulisan-tulisan Syari’ati.
DAFTAR PUSTAKA
The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, Esposito: 2001, 294
Kamis, 02 April 2009
Badan Hukum Pendidikan ; Awal Kehancuran Pendidikan di Indonesia

Sebuah Kritik terhadap Kebijakaan Pemerintah SBY/JK terhadap Pendidikan
karena saya tahu kita semua sudah lelah atas keadaan "
Ciputat, 25 Maret 2009
Dipojokan Perpustakaan Kampus
Cecep Sopandi
(Peneliti Indonesian Culture Academy Jakarta, Aktifis PII/HMI)
Sabtu, 03 Januari 2009
Nalar Sosiologi dan Antropologis Al-Biruni dalam Membaca Realitas Historis
I. Sekilas Tentang al-Biruni
Selama ini, jika berbicara mengenai ahli sejarah dan sosiologi muslim yang dilahirkan oleh zaman keemasan abad pertengahan Islam, kita selalu menyebut nama Ibn Khaldun. Meskipun bisa sepenuhnya dibenarkan, kebiasaan tersebut cendrung mengabaikan kontribusi nama-nama lain, yang barangkali tak kalah penting dari Ibn Khaldun. Diantara ahli sejarah dan sosiologi yang mendahului Ibn Khaldun adalah Abu Rayhan al-Biruni. Sebenarnya ia bukan tidak dikenal sama sekali, akan tetapi reputasinya lebih dikenal sebagai ahli-ahli ilmu kealaman (natural science).
Abu Rayhan al-Biruni (362-440 H/937-1048 M) hidup pada periode yangn didalamnya kebudayaan Islam sedang berada pada puncak prestasinya. Suatu masa dimana sarjana-sarjana hebat semisal Ibn Sina hidup. Pada sekitar abad ke-4/ke-10 dan ke-5/ke-11, dimensi empiris dan positifis dari ilmu pengetahuan kaum Muslimin mulai dibangun, dan para sarjana mulai menulis buku-buku dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Adalah suatu hal yang lumrah, sebagaimana halnya para sarjana muslim lainnya, jika al-biruni dipengaruhi oleh beberapa prinsip didalam kebudayaan Islam, yaitu : (1) kepercayaan kepada ajaran-ajaran fundamental Islam; (2) kelaziman tatanan hierarkis; (3) keharmonisan akal dan wahyu. Ia mendasarkan karya dan penelitiannya kepada bangunan ajaran-ajaran islam.
Dalam bukunya al-Fihrist, ibn an-Nadim menyatakan bahwa buku-buku yang pernah ditulisnya 113 buah. Dengan al-Fihrist, jumlah itu genap menjadi 114 buah. Tentu saja, tidak semua karya-karya tersebut bisa ditemukan sekarang. Mayoritas karya-karya tersebut sudah hilang termakan waktu dan sebagian lagi hilang karena bencana-bencana politik yang terjadi pada zamannya. Apabila diperhatikan, tampak bahwa al-biruni embagi karya-karyanya kedalam 10 kategori, yaitu : komentar-komentar, lampiran-lampiran, catatan-catatan, versi-versi, tabel-tabel astronomi, yang telah diedit dan diperiksa, yang disusun oleh ahli-ahli astronomi terdahulu, serta tabel-tabel dan risalah-risalah mengenai astronomi dan ilmu sejenis; buku-buku mengenai letak wilayah-wilayahgeografis dan arah kiblat; buku-buku mengani matematika; mengani cahaya dan optik; mengenai instrumen-instrumen ilmu astronomi; mengenai waktu dan periodisasi; mengenai benda-benda ruang angkasa; karya-karya mengenai hukum astronomi; dongeng-dongeng dan cerita-cerita; karya-karya mengenai kepercayaan, kredo, dan agama.
Klasifikasi diatas menunjukan bahwa al-Biruni, sebagaimana sarjana-sarjana lainnya, menganut klasifikasi tentang ilmu pengetahuan, dimana ilmu-ilmu kemanusiaan memperoleh status tersendiri. Klasifikasi tersebut jika diringkaskan menjadi tiga klasifikasi besar, yaitu : ilmu-ilmu fisika, ilmu-ilmu matematika dan ilmu-ilmu sosial. Disamping itu, satu hal lagi al-Biruni telah melangkah lebih jauh jika dibandingkan dengan para pemikir sebelumnya, sebab dia tidak saja berhenti pada klasifikasi umum ilmu pengetahuan , akan tetapi juga membuka lembaran baru dalam studi mengani manusia dan pengetahuannya, seperti studi tentang agama-agama, mitos-mitos, sejarah, budaya, bahasa dan lain sebagainya. Lagipula, untuk setiap kelompok ilmu-ilmu itu terdapat suatu metode spesifik yang digunakan.
II. metode umum al-Biruni
Metode al-Biruni mengundang banyak tanggapan hebat pada masanya, dan didalam beberapa segi metode itu secara mencolok berbeda dari metode-metode yang digunakan oleh Ibnu Sina. Dengan memperhatikan bahwa ia menjalankan studi mengenai berbagai persoalan dan menerapkan metode khasnya pada setiap persoalan tersebut, oleh karena itu tidak mungkin dia dikatakan sebagai tokoh empiris murni. Originalitas metodenya dalam menerapkan matematika ke dalam studi kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, upayanya untuk menangkap kejadian-kejadian sejarah dengan menemukan sebab-sebanya, dan tekanannya kepada observasi dan eksperimentasinya; kesemuanya itu membingungkan para pengkritisinya. Hal tersebut juga menunjukan bahwa seolah-olah al-Biruni bukanlah produk umum dari kondisi intelektual pada masanya. Pandanganya berbeda dengan pandangan-pandangan Ibnu Sina dan al-Farabi. Meskipun demikian, gagasan-gagasan al-Biruni dipengaruhi oleh kebudayaan Islam, tak pernah terjadi konflik antara semangatnya dengan semangat para sarjana selainnya. Kejeliannya terlihat dalam kemampuan untuk menemukan suatu metode penelitian baru. Untuk memperjelas metode yang ia gunakan, beberapa karakteristik dibawah ini perlu penulis eksplorasi.
Metode pertama yang ia gunakan adalah pendekatan yang realistik. Dalam melakukan suatu kajian sejarah masyarakat dan alam, al-Biruni menyandarkan diri kepada fakta-fakta dan bersikeras menyingkarkan prasangka-prasangka dari akal pikirannya. Metode kedua yang ia gunakan adalah memisahkan antara penilaian dan fakta. Kelebihan yang paling tampak dalam metode al-Biruni adalah tiadanya intervensi pandangan maupun keyakinan para peneliti dlam menilai keyakinan dan sistem nilai masyarakat serta orang-orang yang ditelitinya. al-Biruni tidak pernah menyalahkan keyakina yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat yang sedang ditelitinya, melainkan menganggap keyakinannya tersebut sebagai sesuatu yang amat berharga untuk diteliti dan diselidiki asal-usul dan fungsinya. Metode yang khas seperti ini dapat kita lacak dalam karya-karyanya mengenai berbagai keyakinan masyarakat India, khususnya yang nerkaitan dengan perkawinan, agama dan magis.
Metode ketiga yang ia gunakan adalah pendekatan yang logis dan analitis. Metodenya didirikan atas dasar bahwa, didalam melakukan studi-studi mengenai sejarah dan problem-problem sosial, suatu upaya harus dijalankan untuk memformulasikan premis-premis pokoksecara logis, yang dengannya langkah menuju pencapaian keenaran menjadi terbuka lebar dan mungkin. Mengenai masalah ini, ia menjabarkan pandangannya dalam bukunya Qânûn al-Mas'ûdi. Dalam hal ini, ia mengajukan kritik-kritik terhadap para sejarawan terdahulu yang telah memaparkan berbagai macam peristiwa tanpa mengadakan suatu penafsiran dan analisa atas watak dan karakrteristiknya.
Metode selanjutnya yang ia gunakan adalah pendekatan matematis. al-Biruni adalah seorang yang sangat ahli matematika, dan semangat matematikanya itu tamak jelas dalam segenap upayanya untuk membangun pandangan-pandangan dan teori-teorinya. Inilah yang membuat pendekatannya selalu kritis dan analitis. Dalam melakukan studi sejarah dan sosiologis, al-Biruni menerapkan metode matematis untuk memperjelas dan sekaligus memperkecil simpangan perhitungan mengenai berbagai fakta dan peristiwa. Menurut para orientalis dan para ahli yang menekuni karya-karyanya, al-Biruni adalah orang yang pertama kali menggunakan pendekatan matematis dalam penelitian ilmiah. Kedua karyanya, al-Âtsar al-Bâqiyah dan tahqîq mâ li al-Hind, penuh dengan kosa kata dan metode-metode matematis. Ia memenuhi karya-karyanya tersebut dengan tabel-tabel dan grafik-grafik untuk sampai kepada deskripsi fakta secara jelas.
III. Pendekatan Antropologi Al-Biruni Terhadap Realitas
al-Biruni menerapkan metodenya yang khas didalam melakukan studi terhadap masyarakat India. Bidang kajiannya meliputi hal-hal berikut : hukum dan tradisi, pola-pola kekeluargaan (perkawinan, hubungan darah, dan lain sebagainya), kelas-kelas sosial, ritus dan ajaran-ajaran agama, tingkah laku dan adat istiadat. Selanjutnya akan dideskripsikan secara singkat dibawah ini.
Hukum dan tradisi . al-Biruni telah memberikan perhatian yang besar terhadap dua masalah, yaitu asal mula hukum-hukum agama, dan kenyataan bahwa hukum-hukum keagamaan tersebut telah menjadi faktor penentu didalam struktur sosial masyarakat, khususnya masyarakat India yang ia teliti. Dalam konteks ini, al-Biruni mengacu misalnya kepada penyembelihan sapi, perkawinan, sistem kasta, dan cara bangsa india dalam memandang kejadian-kejadian dalam sejarah. Ia melihat bahwa bangsa india mempunyai orientasi umum yang bersifat keagamaan.
Pola-pola hubungan kekerabatan. Tanpa potensi yang biasa menghinggapi sosiolog zaman sekarang, al-Biruni mengemban tugas penelitian mengenai sebab-sebab yang memunculkan fenomena ini. Dalam tahqîq mâ li al-Hind (h. 469), setelah memberikan definisi tentang pernikahan, ia menulis : “setiap orang mempunyai adat istiadat mengenai perkawinan, khususnya mereka yanng memiliki syari'at atau perintah dari Tuhannya”. Pernyataan tersebut mengandung beberapa nilai; pertama, perkawinan adalah suatu lembaga umum pada semua bangsa. Kedua, setiap bangsa memiliki adat istiadat dan norma-norma tersendiri menyangkut perkawinan. Ketiga, adat istiadat dan norma-norma dari berbagai bangsa dan manusia menyangkut perkawinan didasari atas keprcayaan keagamaan dan perintah-perintah suci.
Kelas-kelas sosial. Walaupun masalah Kelas-kelas sosial merupakan bidang kajian tersendiri dalam sosiologi, al-Biruni meletakannya dalam pendekatan antropologis, sebabia memusatkan diri pada dua gugus besar persoalan yaitu; pertama, tentang asal-usul dan bentuk kelas. Kedua, tentang fungsi kelas didalam masyarakat. Dalam studinya mengenai kelas sosial, al-Biruni telah berusaha keras untuk mendefinisikan kelas. Ciri-ciri dari sistem kasta bisa ditentukan berdasarkan studinya. Studinya meliuti hal-hal : startifikasi masyarakat kedalam kelompok-kelompok tertentu atas dasar keturunan, spesifikasi fungsi masing-masing kasta dalam masyarakat, tidak ada perpindahan dari satu kasta kepada yang lainnya, perkawinan antar kasta, dan gambaran khas masing-masing kasta. Ia percaya bahwa karena agama menentukan hakikat dari suatu sistem sosial, maka ia juga akan menentukan sanksi-sanksi kasta tersebut.
Agama. India merupakan masyarakat beragama dengan kepercayaan dan cara-cara peribadatan yang berbeda-beda. Siapapun sarjana yanng ingin menelitinya, akan segera dipusingkan dengan pemilihan subjek penelitiannya. al-Biruni juga mengalami hal yang sama ketika berhadapan dengan pluralisme agama. Karena itu pulalah ia tidak terjun meneliti secara detail masing-masing agama tersebut, melainkan membatasinya pada penelitian umum mengenai tiga unsur pokok. Pertama, keyakinan keagamaan. Dalam hal ini al-Biruni berhadapan dengan keyakinan-keyakinan kitab-kita, ritus-ritus, dan praktek-praktek orang india sebagaimana masyarakat lain. Kedua, penyembahan berhala. Dalam hal keyakinan, al-Biruni membagi masyarakat india kedalam dua kelas, yaitu masyarakat awam dan masyarakat elit yang memiliki budaya serta kondisi keagamaan tertentu. Masyarakat elit tidak dapat menerima suatu apapun hingga memuaskan mereka secara rasional. Sementara itu, masyarakat awam dipengaruhi oleh yang tampak secara lahiriah, dan mereka menyembah apa saja. Dikalangan masyarakat yang terakhir ini penyembah berhala merupakan hal yang sangat umum. Ketiga, magis dan ilmu sihir. Satu diantara topik-topik yang berkaitan dengan studi agama, menurut al-Biruni adalah magic dan alchemy. Disini ia berhadapan dengan permasalahan seperti asal-usul magik, kepercayaan masyarakat terhadap magik, hubungan antara sosio-ekonomi masyarakat dengan magik, magik dan hubungannya dengan agama dan ilmu pengetahuan.
Tingkah laku dan adat istiadat. Sebagaimana sering diungkapkan, al-Biruni adalah sosok yang bergelut dengan masalah-masalah norma dan tradisi umum yang berlaku di India. Ia membahas permasalahan-permasalahan tersebut dalam beberapa karyanya yaitu, tahqîq mâ li al-Hind, al-Âtsar al-Bâqiyah, ma'âdin al-jawâhir dan al-Jawâhir. Seperti para antropolog pada umumnya, al-Biruni menerapkan suatu teori dan metode khusus dalam penelitiannya. Pertama, ia membuat satu perbandingan dan kontras antara adat istiadat masyarakat india dengan Yunani dan Persia. Misalnya, dengan meneliti adat dan tatacara perkawinan, al-Biruni telah membandingkan masyarakat india dengan masyarakat Yunani dan persia. Kedua, ia masuk untuk kegunaan dan fungsi adat istiadat didalam masyarakat. Misalnya, sambil memberikan catatan mengenai “adat untuk tidak mencukur rambut dimasyarakat india”, ia menyatakan bahwa adat istiadat itu justru berjalan diatas dogma-dogma agama. Selanjutnya ia medeskripsikan tingkah laku dan tatacara berkenaan dengan permainan catur, pengetahuan kosmologi, pakaian, relasi-relasi sosial, perkawinan dan perjamuan. Dalam mendeskripsikan adat istiadat, al-Biruni menaruh perhatian pada sebab-sebab, penggunaan dan fungsi masing-masingnya. walaupun, fungsi dari adat istiadat itu dalam perkembangannya mengalami perubahan-perubahan, perhtian kita terhadapnya masih sangat penting.
Oleh : Fareed Ridwanullah
Mahasiswa Falsafah dan PeradabanUniversitas Paramadina - Jakarta
Sumber bacaan
Taqi Azad Ara Makki dalam jurnal Ulumul Qur'an, edisi 4, vol 1, tahun 1990 M / 1410 H
www. Wikipedia. org
Tolak Kapitalisasi pendidikan

" Saya ragu dengan Indonesia, Pesimis dengan masa depan karena disekitar saya masih banyak masyarakat yang tidak mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak "
Dunia pendidikan seakan luput dari pandangan kita, padahal ada banyak fenomena yang terjadi didalamnya. berbagai macam krisis dan masalah kerap berhimpun dalam institusi ini. apa sebenarnya yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.
Edukasi yang merupakan jalan utama dalam mewujudkan bangsa maju, bangsa berfikir, kreatif, tidak bisa dikenyam oleh golongan mayoritas. Kaum kapitalis tidak memberikan kesempatan kepada budak untuk mengembangkan pikirannya melalui pendidikan. Mereka disibukkan dan dikejar-kejar tuntutan kehidupan dari atasan. Perbedaan pendidikan, kualitas, kuantitas dan fasilitas antara kaum bangsawan dan golongan bawah sangat menyolok. Ternyata kesenjangan sosial sekarang terus terjadi. Fasilitas pendidikan yang memenuhi syarat, guna meningkatkan kualitas intelektual dieksploitasi oleh orang-orang yang punya kesempatan itu. Slogan-slogan "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi" hanya propaganda simbolistik – dari demokrasi – belaka. Yang kaya semakin tinggi taraf pendidikannya, dan yang miskin semakin terbelakang, bodoh dan terisolasi peradaban. Dalam kondisi seperti ini siapa yang dirugikan ?
Apalagi bagsa ini sekarang diperparah dengan krisis disegala bidang, lebih-lebih krisis ekonomi yang tidak ada ujung pangkalnya. Bukan orang kaya yang berpangkat dan orang berkecukupan yang kena imbasnya, rakyat kecil juga terkena imbasnya. Mereka (rakyat kecil) harus berpontang-panting mencukupi kebutuhan sehari-harinya – apalagi buat bayar uang sekolah anaknya dengan mengandalkan sisa kekuatan menghadapi hidup.
Kapan lagi kelas bawah dapat menikmati pendidikan yang layak – sama kualitas, kuantitas dan sarana – padahal mereka juga ditakdirkan memiliki hak yang sama dalam segala bidang. Kapan pendidikan yang memanusiakan manusia bisa terwujud, kalau masih ada yang tertindas dan dibelenggu haknya. Sudah saatnya kita bergerak meminjam ungkapan WS. Rendra – bukan hanya mengeluh dan mengaduh tetapi mengolah. Sungguh sangat dilematis kondisi pendidikan sekarang, dimana rakyat kecil tidak diberi kesempatan untuk menikmati betapa indahnya belajar disekolah elit yang nyaman dan tenang, kapan pemerintah membuka mata melihat penderitaan mereka?
Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, berkaitan dengan situasi pendidikan, budayawan Umar Kayam yang mensinyalir, bahwa salah satu aspek yang mungkin paling dramatis dibidang pendidikan kita, adalah ketidak seimbangan antara insfrasuktur yang disebut "sekolah" dengan "dunia nyata" yang berada diluarnya .sekolah-sekolah kita mulai dari Sekolah dasar hingga universitas, telah sejak lama tidak mampu melengkapi hampir semua kebutuhannya yang paling dasar dan esensial. Satu sekolah tanpa laboratorium dan alat-alat peraga. Dimana gaji guru yang cukup hanya untuk biaya makan seminggu dan ruangan kelas dengan murid paling sedikit empat puluh hingga lima puluh orang. Realitas ini kita jumpai di dunia pedesaan. Yang paling menyedihkan lagi adalah justru yang paling diperhatikan pemerintah hanya sekolah perkotaan, bukan pedesaan. Hal ini jelas menjadi sebuah dikotomi pendidikan yang memarjinalkan masyarakat pedesaan, Hal ini dapat memungkinkan akan out put yang buruk dari pendidikan itu sendiri.
Persoalan lain yang terjadi di masyarakat pedesaan kaitannya dengan dunia pendidikan adalah kehadiran pendidikan formal sebagai sebuah institusi yang senantiasa menjadi tumpuan masyarakat. Banyak harapan dan keinginan yang ditumpukan masyarakat kepada pendidikan. Melalui pendidikan, manusia berharap agar masa depan kehhidupannya mendapatkan kesuksesan yang menjanjikan. Atas dasar inilah maka masyarakat rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk mendapatkan pendidikan yang nantinya akan menjadi jaminan masa depannya itu. Manusia rela mengorbankan harta, benda, waktu, tenaga, pikiran dan perasaannya demi untuk mencapai pendidikan yang diharapkan.
Impian yang hilang
Sebagian dari masyarakat ada yang dapat mewujudkan impian dan harapannya melalui pendidikan formal tersebut. Namun ada sebagian pula yang tidak memperoleh apa yang diharapkannya dari pendidikan tersebut. jika demikian halnya, tampak bahwa pendidikan formal seperti sekolah –sekolah dengan jenjang-jenjangnya bukan merupakan satu-satunya alternatif yang dapat menjanjikan masa depan masyarakat. Banyak faktor lain yang menentukan selain sekolah sebagai alternative yang menyertai kesuksesan hidup masyarakat.
Kekecewaan masyarakat pada dunia pendidikan formal lebih lanjut terlihat pada saat mereka tidak mampu merespon dan menjawab berbagai masalah actual yang timbul di masyarakat yang menyebabkan mereka tidak dapat meraih kesuksesan.
Ivan Illich memperlihatkan dalam tulisan-tulisannya, bahwa pelembagaan nilai mau tidak mau akan menimbulkan polusi fisik, polarisasi sosial dan ketidak berdayaan psikologis atau bahasannya Malik Fajar "Impotensi psikologis" – tiga dimensi dalam proses degradasi global dan kesengsaraan dalam kemasan baru (Modernised misery). Sedangkan menurut Freire, praktek pendidikan tersebut akan memunculkan kebudayaan bisu dimana masyarakat dihinggapi oleh perasaan takut kebebasan (Fear of Freedom). Dalam keadaan demikian, maka sebagian masyarakat ada yang bersifat apatis, bahkan tidak percaya lagi kepada lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah.
Kenyataan diatas menyudutkan Negara-negara berkembang pada suatu dilema benang kusut khususnya Indonesia. Disatu sisi pihak pertumbuhan penduduk yang demikian pesat menghendaki penyediaan sarana pendidikan yang memadai, tapi dipihak lain penambahan itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.
Maka tidak salah kemudian kalau minat masyarakat terhadap pendidikan berkurang dan berganti dengan kebencian-kebencian serta pesimis kepada masa depan. Indonesia kini dalam ancaman virus kebodohan. suatu saat jika pendidikan tidak dijadikan skala prioritas oleh pemerintah maka dapat dipastikan Indonesia mengalami masa dimana seorang lelaki yang sudah kehilangan keperjakaannya atau lebih tepatnya yaitu "Kehancuran".
Semoga mimpi buruk itu akan hilang dengan angin malam yang sering dirasakan.
Cecep Sopandi
dipojokan perpustakaan

